PKL UB; potret buram enterprenaurial university??…

Menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di lingkungan kampus Universitas Brawijaya semakin meresahkan saja. Hal ini dibuktikan dengan kegerahan berbagai pihak yang merasa PKL menganggu ketertiban kampus. Pihak fakultas hingga universitas merasa terganggu dengan adanya PKL di sekitar lingkungannya.
Masalah mulai bermunculan ketika banyak sekali sampah-sampah yang berserakan tanpa ada yang peduli sedangkan jumlah PKL yang tanpa ijin semakin tak terhitung banyaknya.. Keadaan seperti ini dapat dijumpai di gerbang Fakultas Peternakan. Walaupun pihak universitas dan pihak kelurahan telah memasang papan peringatan -larangan berjualan di tempat tersebut-red, namun tetap saja hal itu tidak terlalu efektif. Sungguh sebuah masalah yang begitu pelik. Peraturan-peraturan yang telah ditetapkan itu pun lewat begitu saja.
Pola pertambahan jumlah pedagang illegal ini tentu membuat pihak kampus harus berusaha keras memutar otak untuk menemukan solusi efektif. Parahnya, hal ini ternyata bukanlah problem baru. Semenjak lima tahun yang lalu problem ini telah menjadi perbincangan yang tak kunjung dapat ditemukan solusi efektif untuk menyelesaikannya. Meskipun jumlah PKL telah dibatasi, tetap saja tidak ada perkembangan yang berarti. “Kami sendiri dari pihak Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Brawijaya mengaku kesulitan sekali dalam menyelesaikan masalah pengelolaan PKL. Sudah banyak sekali program yang kami terapkan tetapi tidak membuahkan hasil yang lebih baik,“ ujar Mukhlis, staf teknis incubator bisnis P4M ( Pusat Pelayanan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat ).
Bagaimana tidak, memang sulit sekali memberikan pengarahan dan pembelajaran terhadap masing-masing individu dalam Paguyuban PKL yang tingkat pendidikannya relatif rendah. Apalagi paguyuban khusus PKL ini sendiri tidak jelas struktur keorganisasiannya, “Pihak LPM sampai saat ini pun belum mendapatkan laporan yang pasti mengenai siapa ketua paguyubannya, dimana tempat tinggalnya, bahkan data-data yang berhubungan dengan paguyubannya sampai saat ini belum ada sama sekali. Ini yang semakin membuat pihak LPM semakin bingung, sedangkan data-data yang berkaitan dengan PKL sangat dibutuhkan dalam pendataan dan laporan periodik setiap tahunnya“, beber pria setengah baya itu.
Pengelolaan PKL Brawijaya sudah mulai ditertibkan sejak akhir tahun 2002, tepatnya tanggal 21 November turunlah surat tugas dari rector guna penertiban PKL di Universitas Brawijaya. ”Berlandaskan dari surat tugas inilah saya mendapatkan amanah untuk merencanakan, mengatur, mengelola dan memantau, memberi laporan periodik ke rektorat dan bekerja sama untuk mensukseskan penertiban pengelolaan PKL yang jumlahnya sangat banyak ini, “ lanjut Mukhlis.
Mukhlis mengaku, sudah banyak cara yang ditempuh dalam rangka menertibkan dan membina PKL. Diantaranya yaitu pembatasan jumlah PKL yang masuk dan berjualan di dalam kampus Universitas Brawijaya. Namun usaha yang dilakukan ini tidak terlalu berhasil. Sampai saat ini hanya 59 orang saja PKL yang masuk ke dalam data LPM. Jumlah itu bisa meningkat dua bahkan tiga kali lipat dari jumlah yang ditetapkan. Semua ini dikarenakan banyaknya PKL illegal yang masuk dan berjualan di dalam kampus.
Ketidakpastian jumlah PKL ini dikarenakan ada sebagian PKL yang aktif dan sebagian yang lain merupakan PKL pasif. PKL yang aktif merupakan pedagang yang selalu berjualan di dalam kampus sesuai dengan tempat yang diberikan oleh pihak LPM. Sedangkan PKL pasif hanya berjualan di dalam kampus saat musim kuliah saja. Jika tiba masa liburan, hanya sebagian PKL yang tampak berjualan di lingkungan kampus. Hal Inilah yang jadi kesulitan pihak kampus dalam rangka pengelolaan dan penertiban PKL di lingkungan kampus.
Selain itu, masalah lainnya muncul ketika Program peminjaman modal kerja yang tidak berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan banyak PKL yang tidak mengembalikan pinjamannya tepat waktu. Bahkan ada yang menghilang sehingga hanya mengembalikan sebagian atau tidak sama sekali. Selain itu program pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) dan penyeragaman kaos dengan rincian 1 kaos diberikan oleh pihak kampus dan 1 lagi dibeli oleh masing masing PKL juga belum maksimal.
Tarikan retribusi sebesar Rp. 1500/hari juga ditetapkan guna menertibkan PKL yang yang berada di dalam kampus, rincian dana sebesar seribu rupiah itu guna pembayaran jasa kebersihan dan keamanan, sedangkan sisanya untuk kas yang disetorkan ke rekening rektorat, lebih lanjut muklis juga mengatakan bahwa penarikan itu juga sudah tidak pernah disetorkan. Pihak kampus sebenarnya sudah rugi sangat besar akibat adanya PKL ini, jika dihitung mencapai jutaan rupiah, “Kami dari pihak LPM ( Lembaga Pengabdian Masyarakat ) binggung juga menentukan langkah apa yang paling tepat untuk lebih menertibkan mereka. Bahkan masih banyak lagi masalah yang timbul sebagai dampak adanya PKL ( Pedagang Kaki Lima ) yang masuk kampus,” jelasnya.
Tentang permasalahan yang dihadapi, berbagai upaya mulai dilakukan baik itu upaya prosedural hingga pendekatan sosiologis. Tapi semua upaya tersebut masih belum mencapai hasil yang maksimal. Harapan LPM untuk ke depannya semoga PKL bisa tertata baik, dan lebih mengerti apa saja aturan yang harus mereka patuhi. “Bahkan sekarang telah mulai dirintis pemindahan PKL di tiga titik, yakni di depan gerbang, di sekitar fakultas pertanian dan di Samantha Krida, “ tutur muklis.
Kesulitan lain dalam pengelolaan PKL di Universitas Brawijaya juga berasal dari dalam kampus sendiri. Misskomunikasi yang terjadi antara tiga lembaga internal yakni LPM, rektorat dan masing-masing fakultas, disebabkan belum adanya koordinasi yang erat antarpihak sehingga masalah pengelolaan PKL pun belum dapat teratasi sesuai harapan.
Saat ditemui reporter ManifesT, pihak PKL sendiri mengakui bahwa memang benar adanya penarikan retribusi sejumlah tertentu guna pembayaran jasa kebersihan dan keamanan. Program pembuatan KTA itu pun memang ada, tapi sudah lama sekali berakhir. “Memang banyak sekali, program-program yang diadakan oleh pihak kampus. Dulu untuk pembuatan KTA saya dipungut biaya tujuh ribu rupiah guna proses pembuatan KTA. Setelah itu pemungutan retribusi yang disetorkan setiap hari ke pihak LPM sebesar seribu lima ratus rupiah, kami juga telah memenuhi”, ungkap Jaenuri,salah seorang PKL. Lebih lanjut jaenuri juga mengatakan bahwa pihaknya merasa telah melaksanakan segala aturan yang telah ditetapkan. Kalaupun LPM mengatakan bahwa banyak kerugian dalam mendanai PKL, itu tidak seratus persen benar karena memang ada beberapa PKL yang belum mengembalikan pinjamannya atau belum membayar kewajibannya dengan berbagai alasan. “Inilah salah satu penyebabnya, jadi tidak semua PKL itu tidak disiplin tetapi memang ada sebagian kelompok yang melanggar dan tidak disiplin seperti itu. “ kata bapak ini serius.
Memang banyak sekali mahasiswa yang menerima adanya PKL yang berjualan di dalam kampus. Tanpa disadari, PKL ini membawa banyak manfaat karena harga yang terjangkau tanpa harus keluar jauh-jauh dari lingkungan kampus. Jika dilihat dari sudut kemanfaatan, memang keberadaan PKL banyak positifnya, namun jika dilihat dari sudut keindahan, kebersihan bahkan kampus merupakan lingkungan kaum intelektual keberadaan PKL sangat mengganggu sekali.
Sangat disayangkan bila hal-hal semacam ini harus terjadi, meskipun keadaan ini sudah lebih baik dibanding 5 tahun yang lalu akan tetapi mengingat berbagai problematika yang berkenaan dengan hal tersebut, maka haruslah ditemukan solusi efektif yang pada akhirnya tidak merugikan pihak manapun. Di satu sisi kampus dihadapkan pada satu pilihan untuk menciptakan suasana asri dan kondusif untuk aktifitas pendidikan, sedangkan disisi lain kewajiban untuk melakukan pemberdayaan masyarakat pun harus tetap dilakukan. (oik ,cby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: