HAM di Indonesia Raya, Indonesia Kita

Oleh: Aini Amnia Majda

Meratapi nasib Hak Asasi Manusia untuk kesekian kalinya di Indonesia, bahkan diseluruh penjuru dunia, usaha yang telah dilakukan belum pernah berdampak langsung untuk sebuah perubahan yang signifikan terhadapnya. Beberapa pelanggaran HAM yang terjadi di dalam negeri terkadang sengaja disimpan dalam peti besi dengan berbagai aparat yang menjaganya agar tidak dapat dibuka kembali. Kemudian muncul para pencari kebenaran yang juga mempertaruhkan nyawanya untuk menguak pelanggaran HAM yang terkubur tersebut, namun tidak jarang kemudian merekaah yang jadi sasaran pelanggaran HAM berikutnya. Ya, kita benar, itulah Indonesia.Meskipun harus menanggung risiko pribadi dan menghadapi tantangan besar, pihak perorangan dan kelompok-kelompok swadaya yang berani, mengungkap pelanggaran hak asasi manusia. Tujuan mereka adalah melindungi hak-hak kelompok etnis dan agama minoritas, pekerja dan perempuan serta menghentikan perdagangan manusia. Mereka bekerja untuk membangun masyarakat sipil yang memiliki gairah, menjamin pelaksaanaan pemilu bebas dan adil dan mewujudkan demokrasi yang bertanggung jawab berdasarkan hukum.

Kekerasan terhadap pembela HAM, tentu satu ironi, padahal dalam Deklarasi Pembela HAM tahun 1999 pasal 1 secara jelas menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak secara sendiri-sendiri maupun bersama orang lain untuk mengajukan dan memperjuangkan perlindungan HAM dan kebebasan fundamental diarea Internasional dan Nasional. Seorang aktivis perempuan seperti Suciwati istri almarhum Munir dan korban-korban lainnya terus melakukan tuntutan kepada Negara merupakan hal yang wajar karena mereka menuntut haknya.

Keadaan Indonesia dengan tingkat kemiskinan yang tinggi membuat permasalahan HAM semakin rumit sehingga menimbulkan pertanyaan’ Apakah kesadaran masyarakat akan HAM masih rendah? Sungguh naïf apabila kita memungkirinya. Indonesia dengan tingkat kemiskinan masyarakatnya yang tinggi kemudian akan mendekatkan masyarakat akan kebodohan dan angka ‘melek peradaban’ yang rendah. Jangankan untuk memikirkan apa yang terjadi diluar komunitas mereka, mereka bahkan sedikitpun belum pernah menyelesaikan ‘PR’ rumah tangga mereka yakni memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sehingga bila sekarang banak orang yang meributkan HAM dan meminta untuk manegakkannya, mereka haruslah memikirkan juga besarnya angka kemiskinan, tigkat pendidikan. Tapi bukan berarti keadaan masyarakat kita yang demikian dianggap belum patut untuk memperjuangkan HAM. Kemiskinan di berbagai wilayah dapat menjadi pemacu dan tolak ukur sampai dimana perjuangan para intelektual dalam ranah HAM. Kemiskinan membuat nyawa,jiwa, raga yang tersisa bagi kaum miskin tidak pernah ada harganya bagi kaum elit. Maka yang sering kita jumpai adalah buruh yang tidak dibayar gajinya, pembantu RT yang disiksa, TKI yang akhirnya bunuh diri dsb. Dan tahukah kita pelanggaran HAM yang demikian tidak pernah terus diperjuangkan.

Saat terjadinya pelanggaran HAM terekspos oleh media massa, seolah-olah semua menaruh empati terhadap korban, mendukung agar pemerintah tidak lagi menjadi pemasok TKI ke negara lain. Begitu pula dengan kasus yang terus hangat dibicarakan, Munir, pejuang HAM Indonesia yang berakhir dengan arsenic dalam minumannya. Kasusnnya masih ramai dibicarakan, diperjuangkan. Tahu mengapa? Ia sangat vocal, tepatnya orang sipil yang memiliki keberanian luar biasa dalam masalah pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah.Munir adalah orang sipil yang luar biasa. Lalu bagaimana dengan kasus rakyat alas tlogo?.yang diketahui ada intervensi dari pihak militer yang sama sekali tidak mempunyai wewenang untuk melakukan eksekusi tanah? Atau kasus pembunuhan aktifis buruh Marsinah di Porong Sidoarjo.Bagaimana nasib mereka?sayangnya mereka bukan orang- orang luar biasa yang dianggap patut pula untuk terus diperjuangkan nasibnya.

Bebagai kasus seperti hak berorganisasi dan memeluk agama yang bahkan telah diatur dalam konstitusi, ternyata dalam praktik pemeluk agama minoritas tetap merasa tidak aman. Mereka dikejar-kejar seakan tidak punya hak hidup. Dan, aparat negara hanya menjadi penonton. Demikian juga soal kebebasan berorganisasi dan berpikir diakui dalam teks. Namun, ketika hak itu mau diekspresikan, teks itu seakan kehilangan makna. Sekelompok orang bisa menjadi hakim terhadap kelompok lain. Lagi-lagi aparat negara hanya menjadi penonton.

Masih banyaknya kasus pekanggaran HAM masa lalu yang termasuk dalam dark number seperti kasus trisakti dan semanggi yang hanya digantungkan nasibnya oleh pemerintah, akan menjadi cambuk bagi pemerintah untuk memperbaiki kondisi penegakan HAM dan jaminan perlindungan bagi penegak HAM. Belum terselesaikannya berbagai pekerjaan rumah pelanggaran HAM masa lalu itu bukan karena ketiadaan norma hukum, melainkan karena masing-masing institusi kenegaraan dan pemerintah tidak mampu untuk mengimplementasikan norma yang telah ada. Tampak ada tidak kesamaan pandangan institusi kenegaraan dalam masalah HAM. Masalah HAM belum menjadi perspective yang menjadi mainstream dalam setiap implementasi kebijakan. Itu sebabnya, maka masalah HAM masih tampak sebagai suatu yang parsial atau berdiri sendiri.

Berangkat dari kondisi empiris msyarakat Indonesia dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, rendahnya tingkat pendidikan, moral aparatur negara, sangat mungkin terjadi banyak sekali pelanggaran HAM namun tidak terekspos karena masyarakat masih terjebak di wilayah pengetahuan tentang penegakan HAM, sehingga sangat perlu kiranya mensosialisasikan penegakan HAM kepada masyarakat dan merumuskan suatu aturan perundang-undangan mengenai Perlindungan Bagi Pembela HAM demi suatu kepastian hukum di Indonesia.

Dan suatu tantangan besar untuk kita, dapatkah kita merubahnya?dapatkah kita membenahi penegakan hukum, membenahi seperangkat peraturan, dan menjadi orang-orang yang berani berjuang untuk sebuah perubahan yang harus terjadi?mia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: