Kembali padaTeologi Kemanusiaan…

Refleksi 3 Tahun Pembunuhan Aktifis HAM Munir

Gajah yang mati meninggalkan belalainya, sementara manusia mati meninggalkan namanya. Kali ini Munir bukan hanya meninggalkan namanya, Ia meninggalkan sebuah pemikiran yang sangat berarti bagi para pembela kaum terlupa…

 

Kesadaran diri sebagai makhluk social menghadapkan kita pada suatu kenyataan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain bahkan berlaku pula pada sekedar kebutuhan penghargaan dari orang lain. Munir dengan Teologi Kemanusiaannya. mengajak kita untuk selalu peduli pada ‘lingkungan sekitar’.

Bermula dari teologi ketuhanan yag dipahami sebagai pedoman untuk melakukan hubungan antara manusia dan tuhannya yang telah menjadi sebuah kesepakatan besar bagi agama-agama. Teori ketuhanan dipandang sebuah dunia yang berbeda dengan dunia atau aktivitas sehari-hari manusia. Maka, ketika banyak hal yang telah kita lakukan untuk Tuhan, dan itu tidak memiliki maslahat/kebaikan untuk manusia, maka manusia tersebut dinilai telah gagal dalam dalam hubungannya dengan tuhannya.

Namun, untuk seorang munir hubungan dengan tuhan adalah pula hubungannya dengan sekitarnya. Tepatnya dengan orang-orang disekelilingnya. Inilah yang kemudian disebut sebagai teologi Kemanusiaan. Esensi dari teologi ini adalah bagaimana mambuat diri kita berguna bagi orang lain yang membutukan kita. Bukan sekedar hubungan social biasa. Namun lebih ditekankan pada pembelaan kaum tertindas, kaum buruh dan kaum petani. Masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan kita untuk menyadarkan mereka mengenai hak-hak mereka yang paling asasi namun masih saja terjadi pelanggaran terhadap hak-hak tersebut.

Menjadi seorang pembela kaum tertindas.Itu yang Munir ajarkan melalui teologi kemanusiaan yang dapat pula dianggap kelanjutan tindakan setelah tindakan daan teologi ketuhanan yang bersifat formil. Atau dapat dipersamakan dengan ‘tindakan’ dalam arti luas dari teologi ketuhanan. Karena beribadah dalam arti sempit/ hubungan yang bersifat horinsontal bahkan dengan intensitas tinggi tentu tidak akan banyak diperhitungkan tanpa adnya dukungan dari kebaikan-kebaikan dalam hubungan social kemasyarakatan.

Hal serupa sebenarnya telah diperkenalkan terlebih dahulu oleh beberapa ulama yakni Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid /Gus Dur yang kemudian dirumuskan didalam satu rangkaian nilai dasar yang terus digali relevansinya hingga sekarang. Almarhum munir termasuk salah satu orang yang juga terus menggali nilai-nilai dasar tersebut kemudian memperkenalkan istilah ‘teologi kemanusiaan’ yang disimpulkan dari rangkaian nilai dasar tersebut.

Menilik ajaran dalam agama islam bahwa setiap manusia merupakan Khalifah dibumi yang kemudian diartikan bahwa manusia adalah pemimpin minimal bagi dirinya sendiri. Namun dalam teologi kemanusiaan khalifah atau pemimpin di dunia dimaknai bahwa yang Maha Kuasa telah menitipkan dunia ini pada kita dengan segala permasalahannya. Manusia dalam hal ini memiliki tugas untuk menjaga agar dunia ini berjalan dengan seharusnya. Permasalahan-permasalahan didalam masyarakat menjadi kewajiban bagi manusia sebagai khalifah di bumi untuk menyelesaikannya dengan cara-cara yang benar.

Teologi kemanusiaan yang dipopulerkan oleh Munir ini juga mengajarkan kita untuk segera berhenti dari keserakahan dan keegoisan pada kepentingan duniawi. Asas membela kaum yang lemah menjadi suatu dorongan untuk menyadarkan manusia bahwa berbagi dan bekerjasama juga hubungan persaudaraan jauh lebih penting dari pada kepentingan duniawi yang sesaat.

Maka bagi mereka yang sedang menjadi pemimpin bangsa ini, teologi kemanusiaan akan banyak berperan untuk mengenali dan menilai kemampuan anda sebagai pemimpin. Betapa bijaknya bila para pemimpin bangsa ini mengenali ‘siapa’ rakyatnya. Para buruh, petani dan rakyat yang tertindas di seluruh penjuru bangsa ini membutuhkan pemimpin yang memperhatikan nasib mereka. Dan akan ada 1000 munir lagi yang akan membantu mereka untuk menapatkan haknya.

 

 

Hingga saat ini sungguh tidak dapat dimengerti bagaimana orang dapat merasa terhormat diatas penderitaan yang dirasakan oleh sesamanya…

Mia.2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: